MEREKA SEDANG DIUJI, KITA DIBERI KESEMPATAN UNTUK PEDULI

 

  Dibuat oleh: Admin                                           

 Selasa, 8 September 2026 / 25 Rabiul Awal 1448 H     

                     

 Kita ini sering lupa kalau dunia hanyalah tempat singgah, bukan tempat tinggal abadi.

Bumi yang saban hari kita pijak, gunung yang kita pandang teduh, hingga lautan luas, hakikatnya tunduk pada titah Sang Khalik.

Begitu Allah memberi isyarat lewat gempa, banjir, atau erupsi, runtuhlah rasa jumawa kita. Nyatalah manusia ini makhluk yang dhaif, lemah selemah-lemahnya.

Namun, di era layar kaca dan media sosial hari ini, ada penyakit hati yang kerap kambuh: kita mendadak gemar bertindak sebagai hakim takdir sesama hamba.

Begitu mendengar kabar duka dari suatu daerah, linimasa lekas dipenuhi komentar nyinyir: “Wah, itu azab! Pasti di sana sarang maksiat.”

Subhanallah. Betapa lancangnya lisan kita menyimpulkan rahasia langit.

Sejak kapan seorang hamba berhak memvonis penderitaan saudaranya sebagai kutukan? Bagi para kekasih Allah, musibah adalah pengangkat derajat.

Bagi yang lalai, ia adalah teguran kasih sayang. Menghakimi korban bencana bukanlah adab santri yang diajarkan para kiai.

Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:
“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini tidak menuntut kita menjadi komentator dosa orang lain, melainkan memerintahkan kita bersabar, mengambil ibrah, dan membenahi diri.

Coba renungkan dengan mata batin. Bencana memang ujian berat bagi mereka yang terdampak, tetapi respons kita terhadap musibah itu adalah ujian keimanan bagi kita yang selamat.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang melapangkan kesusahan saudaranya di dunia, Allah akan melapangkan kesusahannya pada hari kiamat kelak.

Saudara kita di tenda pengungsian butuh pangan, air bersih, selimut hangat, dan doa tulus, bukan ceramah penghakiman yang melukai hati.

Satukan doa tolak bala dan istigfar dengan ikhtiar nyata: sedekah terbaik, menjaga kelestarian alam, serta membangun kesiapsiagaan bencana.

Sekecil apa pun kepedulian yang kita ulurkan hari ini, ia akan menjadi lentera harapan bagi mereka untuk bangkit kembali.

 

Tags :
Uncategorized
Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *